Posted in 21 August 2015, by Mic, kategori Berita

Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) mendapat tantangan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM RI) untuk menjadi agen kemandirian energi bagi masyarakat dan perguruan tinggi lain. Kepercayaan ini merupakan tindak lanjut atas prestasi FT-UB sebagai nominator dalam “Penghargaan Energi Tahun 2015″ yang diselenggarakan Kementerian ESDM. Pada kegiatan tersebut, FT-UB merupakan satu-satunya perguruan tinggi yang masuk sebagai nominator Penerima Penghargaan Energi Prakarsa kategori kelompok masyarakat.

Sebagai nominator pada ajang ini, Dekan FT-UB Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono, MT pun berkesempatan untuk mengikuti upacara peringatan kemerdekaan RI di Istana Negara serta ramah tamah dengan Presiden RI Joko Widodo pada 18 Agustus 2015 di Istana Kepresidenan Bogor. Turut serta dalam acara ramah tamah ini adalah Paskibraka, Pasukan kehormatan Taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian, Orchestra Gita Bahana Nusantara, serta para Teladan Nasional. Pengumuman pemenang penghargaan ini, menurut Dekan akan dilakukan pada Hari Nusantara Nasional atau Hari Energi Nasional tahun ini.

Diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis (20/8/2015), awalnya FT-UB tidak didesain untuk menerima penghargaan ini. Sekitar enam bulan lalu, Dekan Pitojo merespon surat Kementerian ESDM RI untuk mengirim portfolio atau company profile, sebagaimana dilakukan seluruh Fakultas Teknik di Indonesia, terkait kepedulian terhadap pengembangan energi. Pasalnya, pihaknya merasa bahwa pengembangan energi sudah merupakan kegiatan FT-UB. Lebih dari 100 judul skripsi, tesis dan disertasi membahas energi listrik ramah lingkungan, termasuk kajian tenaga air. Tiga jurusan di FT-UB yakni Teknik Elektro, Teknik Pengairan dan Teknik Mesin turut mendukung pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Sementara lebih dari 50 judul penelitian terkait PLTMH telah dikembangkan dengan menggandeng institusi seperti PT. PJB, PLTU Paiton dan PLN.

Sesuai OTK (Organisasi dan Tata Kerja) 2013, FT-UB membentuk Badan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BPP). Didalamnya termasuk roadmap penyediaan energi berkelanjutan dan ramah lingkungan. Interaksi dengan masyarakat dilakukan melalui penelitian dan pengabdian mandiri yang dilakukan dosen dengan melibatkan mahasiswa.

Dekan Pitojo menjelaskan, project pengembangan energi ramah lingkungan di FT-UB telah dimulai sejak lama dan secara sporadis oleh dosen-dosen FT-UB. Baru sejak tiga tahun silam, pihaknya mengembangkan model wilayah binaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Melalui wilayah binaan ini, dilakukan pemetaan kondisi masing-masing, termasuk didalamnya permasalahan serta potensi untuk eksplorasi dan eksploitasinya.

Tercatat, FT-UB kini memiliki 18 wilayah binaan. Bersama FT-UB, diskusi dengan wilayah binaan dilakukan setiap tahun untuk memetakan permasalahan yang dihadapi masing-masing. Diantara yang terpetakan adalah masalah listrik, air minum, pipanisasi, serta peternakan.

Dari 18 desa tersebut, Pitojo menyampaikan, 10 diantaranya (60%) sudah selesai digarap. Bantuan fisik yang diberikan FT-UB kepada wilayah binaan ini meliputi PLTMH (4 unit), instalasi biogas (44 unit), panel tenaga surya serta pompa hidram.

Bantuan PLTMH diberikan FT-UB mulai dari desain, konstruksi hingga pendampingan. Pendampingan, dijelaskan Pitojo, dilakukan dengan mendidik dan mengajari untuk mengelola aset, mengoperasionalkan, memelihara dan manajemennya. Dari data operasional diketahui bahwa 1 unit PLTMH mampu menyalurkan listrik 250 Watt/rumah dengan biaya 15 ribu/kepala keluarga. Selama satu tahun, dilaporkan kas yang terkumpul sebesar Rp. 1 juta rupiah. “Bahkan banyak masyarakat yang membayar dengan hasil bumi,” ungkap Pitojo.

Instalasi PLTMH telah terpasang di Desa Bendosari Malang , Desa Kalijari Blitar dan Desa Andungbiru Probolinggo. Implementasi PLTMH yang berbasis pada air, menurut Pitojo juga mendidik masyarakat untuk melestarikan hutan dan sungai agar bersih dan debitnya selalu terjaga.

Untuk instalasi biogas, telah terpasang di beberapa desa seperti Purwoharjo, Cemorokandang, Tajinan dan Tegalweru. Instalasi biogas milik FT-UB, menurut Pitojo juga memiliki unit penyimpanan sehingga gas yang telah diolah bisa disimpan.

Sementara itu, Panel surya dengan desain pohon panel tenaga surya dipasang di depan kampus UB serta di beberapa gazebo di lingkungan FT-UB.

Pompa hidram adalah pompa yang mampu memancarkan dan menyalurkan air ke elevasi lebih tinggi tanpa bantuan mesin. Dengan tenaga air itu sendiri, pompa hidram akan membawa air ke tandon di tempat yang lebih tinggi, untuk kemudian mengalir ke bawah dengan prinsip gravitasi. “Penggunaan mesin diesel untuk pompa air ini butuh biaya untuk pembelian solar,” kata Pitojo. Selain itu, menurutnya masyarakat tidak memiliki biaya pemeliharaan dan biaya operasional.

“Diantara kajian laboratorium kami adalah masalah energi,” ungkap Dekan Pitojo. Untuk unit PLTMH misalnya, produk FT-UB memiliki keaslian dalam desain turbin dan generator. “Produk kami memiliki keunikan karena mengacu pada riset yang ada di laboratorium,” ia menambahkan.

Dengan anggaran hingga Rp. 2.5 Milyar, FT-UB mendukung upaya pengabdian masyarakat. Melalui program desa binaan, menurutnya aktivitas tersebut lebih terarah dan memiliki dampak lebih luas pada aspek ekonomi, sosial budaya, serta mendorong perubahan. [Denok/Humas UB/mic]

Sumber : http://prasetya.ub.ac.id/berita/en/html/17191

481 total views, 1 views today