Posted in 20 September 2017, by Yeremia Dimpudus, kategori Arsitektur, Berita, Jurusan

IMG_2340Guru besar Arsitektur Universitas Brawijaya (UB) Malang, Prof Ir Antariksa Sudikno MEng PhD baru saja menerbitkan buku ketiganya yang berjudul “Teori dan Metode Pelestarian Arsitektur dan Lingkungan Binaan”.

Ketua program magister Arsitektur Lingkungan Binaan itu mengatakan buku tersebut merupakan kumpulan penelitian dan kajian sebagai pegangan dan masukan mengenai bangunan mana yang harus dilestarikan.

“Sesuai UU cagar budaya, bangunan yang bisa dilestarikan adalah bangunan usia di atas 50 tahun, memiliki nilai kelimuan dan pengetahuan, serta asli dan tidak mengalami perubahan. Baru kemudian dikaji menggunakan pertimbangan lain seperti yang tercantum pada buku ini,” jelasnya pada rekan media.

Buku tersebut mencantumkan 8 pendahuluan penelitian mahasiswa bimbingan Prof Antar yang meneliti bangunan cagar budaya di beberapa daerah di Indonesia. Antara lain di Bogor, Surabaya, Padang, dan Kota Malang.

“Bangunan lama itu coba dibuka fisik dna dinilai karakteenya untuk menentukan strategi apakah akan dilestarikan, dipreservasi, atau lainnya. Hasilnya bisa direkomendasikan pada pemerintah kota masing-masing,” lanjut lulusan Kyoto Institute of Technology itu.

Buku itu cukup penting bagi masyarakat di peradaban sekarang yang masih memiliki bangunan dari masa lampau.

“Bagaimana bangunan tersebut dilestarikan, misalnya dengan dialihfungsikan menjadi kafe namun tetap memiliki nilai historis,” tutur guru besar ilmu sejarah dan pelestarian arsitektur UB itu.

Apresiasi terhadap buku tersebut sudah disampaikan oleh Pemkot Malang, alumni, dan pusat dokumentasi arsitektur yang tertarik untuk menjadikannya sebagai acuan dan teori pelestarian bangunan.

Meski penyusunan buku tidak sampai satu tahun, namun penulisan dan penelitian membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Awalnya saya ragu-ragu karena takut penyusunan buku saya hasilnya jelek. Apalagi karena harus mengubah bahasa hasil penelitian menjadi bahasa populer,” ceritanya.

Ia berharap buku ini akan banyak digunakan oleh akademisi atau yang mencintai bangunan lama dan kuno bersejarah untuk mempertajam hasil penelitiannya.

“Kalau bisa dikaji semuanya sampai bangunan pintu, jendela, agar hasil temuan lebih kuat untuk penentuan pelestarian bangunan,” tutupnya.

Peluncuran Buku ketiga Prof Anter sendiri dilksanakan di Gedung Arsitektur UB, bertepatan pada hari ulang tahunnya yang ke 60, 14 September lalu. Buku pertama Prof Antar berjudul Pelestarian Arsitektur dan Kota yang terpadu (2015), sedangkan yang kedua Pelestarian Arsitektur Pecinan (2016). Keduanya dapat diakses di toko buku terdekat.

Menurut Prof. Antar, menulis buku adalah bentuk tanggung jawabnya terhadap keahliannya dalam ilmu Arsitektur. Dirinya juga mengajak dosen- dosen lain untuk aktif menulis, sehingga ilmu yang dimiliki tidak hanya dapat diakses di kelas dalam sesi oral teaching tetapi dapat ditransfer kepada siapapun, dimanapun, dan kapanpun.

“di sisi lain, saya ingin membuktikan konsistensi saya memegang prinsip ‘Tidak banyak bicara tetapi memiliki hasil nyata’”. Tutupnya.

(disadur dari Harian SURYA ONLINE terbit tanggal 19 September 2017 http://suryamalang.tribunnews.com/2017/09/18/guru-besar-arsitektur-universitas-brawijaya-malang-luncurkan-buku-teori-pelestarian-bangunan)

 

 

181 total views, 4 views today