Posted in 7 June 2018, by Mic, kategori Berita, Disertasi, Dosen, Teknik Sipil

5Penelitian beton ringan dari batu apung dan skoria belum berkembang pesat di indonesia, padahal sebagai daerah vulkanik keberadaan keduanya sangat melimpah. Reduksi densitas beton ringan ini dapat mencapai (20-25)%, sehingga dapat mereduksi berat sendiri bangunan, merubah desan akhir, menurunkan rasio densitas-kekuatan dan biaya konstruksi. Reduksi berat sendiri ini juga menguntungkan untuk daerah rawan gempa karena massa gedung berkurang, gaya inersia dan gaya horisontal akibat gempa berkurang sehingga resiko akibat gempa menurun.

Hendro Suseno, dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, mengangkat judul Pelaku retak dan prediksi lebar retak satu arah dari beton ringan batu apung dan skoria bertulang, sebagai syarat kelulusan dari Program Doktor Teknik Sipil Fakultas Teknik UB, bidang minat Ilmu Teknik Struktur.

Ujian Terbuka Disertasi ini dilaksanakan di Ruang Sidang lantai 2 Gedung Teknik Sipil FT-UB. Turut hadir di Ujian Terbuka pagi itu Dekan FTUB, Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono MT beserta Dekan lintas periode. Diantaranya Prof. Ir. Suhardjono, M. Pd., Dipl. HE. (1982-1985 & 2001-2005), Ir. Arifi 3Soenaryo (1985-1988), Ir. A. Aziz Hoesein, Dipl. HE., M.Eng. Sc (1988-1992), dan Ir. Suroso, Dipl. HE., M.Eng (1992-1995).

Batu apung dan skoria Gunung Kelud mempunyai karakteristik yang khas dan berbeda dengan yang umumnya ada. Keberadaannya masih melipah dan belum dieksplorasi secara maksimal sebagai agregat ringan. Jadi bila digunakan untuk agregat kasar beton ringan boleh jadi menghasilkan proporsi campuran yang baru dan berbeda dengan penelitian sebelumnya.

Salah satu cara untuk mereduksi berat gedung sendiri diusulkan mengganti pelat masif dengan pelat pracetak beton ringan bertulang dari batu apung dan skoria. Pelat pracetak didesain sebagai pelat satu arah dan didasarkan pada persyaratan kekuatan lentur dan kemampuan layan. Salah satu kemampuan layan adalah lebar retak maksimum yang sangat dipengaruhi oleh karakteristik mekanik beton dan dapat dievaluasi dari perilaku retak.

Studi ini menunjukkan bahwa batu apung dan skoria basaltik andesitik medium-K dari Gunung Kelud memenuhi ketiga pokok bahasan yang diteliti, yaitu sebagai agregat kasar ringan, aplikasinya pada beton ringan struktural dan aplikasinya pada pelat satu arah beton ringan batu apung dan skoria bertulang.

4Hendro Suseno harus mempertahankan disertasinya di depan tim dosen penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Triwulan, DEA, Dr. Ir. Bambang Dwi Argo, DEA. Dan dengan bimbingan ketiga promotor yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Agoes Soehardjono, MS, Prof. Dr. Ir. ING Wardhana M.Eng, Ph.D., dan Dr. rer. Nat. Ir. Arief Rahmansyah., Hendro Suseno berhak mendapatkan gelar Doktor dengan predikat Cumlaude.

“Ini adalah langkah awal anda. Saatnya kembali mengabdi dan menerapkan ilmu yang sudah didapat, terutama di Teknik Sipil FT-UB, serta tidak berhenti meneliti untuk meraih gelar guru besar,” pungkas Prof. Agoes selaku promotor.

1 9

240 total views, 1 views today