icoemis

Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya menggelar konferensi internasional dengan tajuk The 1st International Conference on Engineering and Management in Industrial System (The 1st ICOEMIS), Kamis, 8 Agustus 2019, di Paramount Hall Atria Hotel and Conference Malang.

Menyesuaikan dengan tantangan di bidang manajemen industri saat ini, konferensi mengangkat isu Aplikasi Inovasi Terbuka pada Industri Pelayanan dan Manufaktur sebagai fokus utama.

“Terdapat 122 paper yang terlibat pada konferensi perdana kami ini,  dimana 9 persen berasal dari luar negeri,” ujar Ketua Panitia, Sugiono, Ph.D.

Adapun negara peserta yang berpartisipasi berasal dari Belgia, Filipina, Thailand, Jepang, Singapura, Malaysia, Sierra Leonne, dan Indonesia.

Sementara tujuan utama konferensi ini adalah untuk menyediakan wadah bagi para peneliti, insinyur, akademisi, serta profesional industri dari seluruh dunia untuk mempresentasikan ide-ide, kegiatan, dan hasil-hasil penelitian mereka selama ini.

Untuk bertahan di Bisnis Global, UKM, universitas, dan pemerintah harus berkolaborasi memanfaatkan segala potensi sumber daya yang ada untuk menghadapi perubahan yang sangat pesat di masa depan.

Bertindak sebagai Keynote Speakers adalah Prof. Dr. Wim Vanhaverberke dari Neoma Business School Prancis dan Assoc. Prof. Dr. Mohd Rizal bin Salleh dari University Teknikal Malaysia Malaka.

Dalam paparannya, Wim Vanhaverberke menyampaikan tema Manajemen Inovasi Terbuka pada UKM. Sedangkan Rizal bin Salleh membeberkan cara Memupuk Inovasi Terbuka diantara UKM dengan sudut pandang di Malaysia.

Selain 2 keynote speakers, TI-UB juga mengundang 3 orang pembicara lain. Mereka adalah Dr. Andi Sudjana Putra dari National University of Singapore (NUS), Naris Charoenphorn, M.Eng., dari Thammasat University, Thailand, dan Oyong Novareza, Ph.D dari Universitas Brawijaya.

Hadir membuka kegiatan perdana ini, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Aulanni’am, DVM., DES. Ia mengungkapkan bahwa Pemerintah sudah memfasilitasi kolaborasi industri-kampus melalui Academic Business Government (ABG).

Profesor yang jago berbahasa Perancis ini juga optimis konferensi perdana ini akan memberikan banyak manfaat baik bagi peserta, pemateri, maupun panitia.

“Saya percaya koferensi internasional ini mampu menyediakan platform bagi para akademisi, peneliti, dan insinyur untuk bertukar gagasan, memicu kolaborasi industri-kampus baik secara nasional maupun internasional dan menciptakan teknologi baru,” harapnya sebelum membuka acara. (mic/and)