Pemenuhan kebutuhan air bersih bagi pemukiman merupakan aspek yang sangat krusial. Upaya pemenuhan air bersih ini harus dilakukan secara kontinyu dalam jangka waktu yang lama.

Namun tidak semua daerah dapat memenuhi kebutuhan air bersih ini. Salah satunya adalah Desa Karangbinangun, Kabupaten Lamongan.

Sumber air yang banyak digunakan oleh masyarakat Desa Karangbinangun adalah air sungai Bengawan Solo dan air sumur. Sayangnya air Bengawan Solo dan sumur di Desa Karangbinangun dapat dibilang tidak sehat, karena selain keruh, airnya juga berasa asin dan berbau.

Tertantang untuk mengatasi permasalahan air bersih di desa ini, empat mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) menciptakan alat filtrasi sederhana.

Rifki Ridhollah selaku ketua tim membuat filter air ini bersama ketiga rekannya; Made Bagus Armadewa, Anima Rahmatika Putri, dan Rashieka Putri Maghfiroh.

Diberi nama Multi Water Treatment (MWT), filter ini dirancang sederhana dengan menggunakan alat dan bahan yang mudah didapat dan diaplikasikan oleh masyarakat.

Alat yang dibutuhkan untuk membuat alat filtrasi ini adalah pipa paralon, tutup pipa paralon, stop kran, lem khusus paralon, dan distributor yang mudah dibuat sendiri.

“Media filternya kami menggunakan bahan yang mudah didapat di Desa Karangbinangun, yaitu sekam padi,” ujar Rifki saat diwawancarai secara daring melalui media zoom (10/Sep/2020).

Sekam padi, lanjutnya, dibakar hingga menjadi arang untuk kemudian digunakan untuk menghilangkan kandungan Fe (besi) dan Mn (mangaan) dalam air yang dapat menyebabkan warna air menjadi kuning kecoklatan serta menimbulkan bau.

Media filter lain yang digunakan adalah zeolit yang berfungsi untuk menghilangkan kesadahan dan salinitas dalam air dengan metode ion exchange.

Tim juga menggunakan antrasit yaitu media filter yang berasal dari batu bara dengan kandungan karbon sebesar 85-95% untuk mengatasi masalah bau dan rasa yang disebabkan oleh kandungan organik dalam air.

Lebih lanjut, digunakan pula batu kerikil yang berfungsi untuk menyaring kotoran kasar dengan ukuran yang lebih besar, dan spons cuci piring yang digunakan sebagai pembatas antar media filter sekaligus menahan partikel padatan agar tidak lolos ke media filter berikutnya.

“Semoga alat ini dapat mudah diimplementasikan dan dikembangkan oleh masyarakat untuk mengatasi krisis kekurangan air bersih, terutama di desa-desa yang minim akan pengolahan air,” harapnya.

Di bawah bimbingan Ir. Bambang Ismuyanto, M.S., tim akan berjuang bersama enam tim PKM FTUB lainnya mewakili UB di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXXIII November 2020 mendatang. (mic)